Setan-nya Tuh di Sini


setan.menorehkata.wp.com

Aku berusaha lari sekuat tenaga mencari perlindungan, kuputuskan untuk sembunyi ke rumah. Di luar sana sangat mengerikan dan tidak aman lagi. Begitu masuk rumah, pintu kudorong kuat, kubanting keras agar menutup rapat, terkunci. Sejuta perasaan takutku mencengkeram kuat menyesakkan nafas. Aku tak mampu menjelaskan. Baru kali ini Aku merasakan takut sejadi-jadinya atas peristiwa barusan. Dengusan nafas ketakutan terdengar bagai bom meledak. Tubuhku terasa lunglai, sendi-sendi terasa tak sambung lemah sekali. Terkuras tenaga tak menyisakan energi.

Se-ekor setan tadi di perjalanan telah menguntitku, mengejarku, memburuku tanpa ampun. Hingga aku lari dan sembunyi di kamar ini. Kulihat cermin di kamar, wajahku tampak beraneka warna, merah-kuning-hijau. Hmm…aku tidak mampu menghentikan degup jantung yang keras. Bergelas air kuteguk tak mampu menurunkan nadi agar lebih tenang. Bulu kudukku merinding tak terkendali. Saya ketakutan diluar batas.

Sengaja ruang kamar lampunya tidak kunyalakan. Hingga tampak temaram, berharap agar setan yang memburuku tadi tidak menemukanku. Sial betul, gara-gara setan satu tadi membuatku terbunuh oleh rasa takut dan skak-mati. Kupandang wajahku di cermin tampak pucat pasi, amburadul dan keringatnya sejagung-jagung.

Tiba-tiba, lengkingan suara seperti suara setan yang memburuku tadi memecah keheningan.
“Kenapa kau lari! padahal kamu tak bisa lepas dariku!”
aku kaget bukan kepalang. Lantaran suara itu datangnya dari cermin yang sejak tadi kupandang.
“Busyet! Anjing kutu busuk! siapa kau!” hardikku sedikit menutup rasa kaget.
“Siapa lagi kalau bukan aku, yang tadi mengejarmu kawan hehe.” Jawab bayangan dari cermin itu enteng
“ Enyah kau iblis gondoruwo setan pipriyangan! Pergi! Pergi dari sini!” teriakku keras sekali.

“Tak ada gunanya kau memaki, aku tak kan keluar darimu kawan.”
“Hah!!!” aku tambah kaget
“Kenapa bisa begitu?” tanyaku makin bingung.
“Karena aku berada di sekujur aliran darahmu kawan” jawab sosok bayangan cermin.
Seketika bergetarlah seluruh tubuhku, dingin menggigil terasa membelah badan.
Dalam ketakutan yang tiada batas, aku mulai tidak berani lagi menatap cermin itu, sebab yang tampak dikeremangan kamarku pantulan cermin itu mirip betul dengan wajahku. Aku ragu dengan penglihatanku, mustahil yang di cermin itu bayangan wajahku.

Aku semakin menggigil ketakutan. Ciut nyaliku. Terasa sesak dunia ini. Dan aku memutuskan untuk tidak melihatnya lagi, bahkan melirik sedetikpun di cermin itu.
Dengan mulut bergetar aku mencoba Tanya tanpa berani melihat cermin,
“Sejak kapan kau berada di aliran darahku. Mustahil aku tidak pernah bertemu denganmu “
“Selama kau tak mengenal Tuhanmu” jawaban setan ini membuatku tambah tersentak, mataku berkunang-kunang membuatku mau roboh.
“Bedebah kau syaitaaaaaaaaaaaaan!” tubuhku terhuyung, sumpah serapahku meledak dan terus menunjuk wajah di cermin sambil menutupi wajah.

“Aku ini ber-agama! Tolol! ” teriakku keras, aku geram sekali sambil terus menempelkan jari telunjuk tepat di wajah bayangan cermin.
“Itu tidak bakal menghalangi langkahku dalam memburumu fren…” timpalnya enteng

“Kenapa ?” tanyaku menyelidik.
“Kau riya’ dalam sholat, kau riya’ waktu mengaji, kau riya’ saat bersedekah, kau-pun riya’ dalam puasa dan ibadahmu yang lain. Itu! yg membuatku betah tinggal berlama-lama di sekujur aliran darahmu” jelas setan bersungguh-sungguh.

Terjadi debat antara aku dan bayangan di cermin. Aku memflashback, cerita kembali sejarah dan berharap godaan di cermin sirna. Ceritaku tentang masa lampau antara setan dan Sayidina Ali, RA. Ketika setan hendak menggoda orang yang sedang sholat di masjid, dan takut terhadap Sayidina Ali, RA. sedang tidur di sebelah pintu masuk masjid tersebut.

“Oh… itu jaman moyangku dan sebenarnya itu sangat rahasia kawan. Semua dari
golongan setan dan iblis tidak pernah takut pada Malaikat, Nabi, Kyai, Ustadz apalagi manusia sepertimu. Hanya satu yang kami takuti, DIA-lah  ALLAH SWT pencipta langit-bumi seisinya. Lantas kenapa kami lebih takut Sayidina Ali daripada orang yang sedang sholat? Sayidina Ali waktu tidur itu dalam keadaan beserta dengan Allah, sedangkan orang yang tadi sholat itu tidak, maka kami berani menggelincirkannya. Ibarat kabel itu tubuh manusianya…maka siapa sih yg berani memegang strum listriknya? kecuali yang ingin knock-out!” urainya  dengan ilmiah.

Tiba-tiba percakapan setan berhenti.

“ Ya ampun aku telah menceritakan sebuah rahasia…” teriak setan menyesali.

Lampu kamar kunyalakan, dan mulai memperhatikan dengan seksama, yakin bahwa bayangan di cermin itu betul mirip aku. Dan suara rupa setan yang mengerikan itupun perlahan menghilang bersama angin. Aku terdiam lama di depan cermin, semakin lama semakin aku yakin bahwa aku memang setan.

Penulis: Rudono Hadi

Ilustrasi gambar: sumber google

Iklan

2 responses to “Setan-nya Tuh di Sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s